Aku sedang merindu,
Merindukan kalian yang dulu,
Yang bisa ku genggam ketika aku terpuruk,
Aku sedang merindu,
Hingga tetesan air mataku terjatuh,
Entah duka apa yang sedang berselimut dalam hati,
Yang ingin ku gapai saat ini hanyalah kalian,
Inginku memelukmu hingga segalanya tercurahkan,
Hatiku sedang tak menentu,
Wahai kalian yang dulu,
Kembalilah dalam situasi yang sama,
Hinggaku dapat bersamamu disetiap detik,
Meski ku tersadar bahwa waktu ini telah berbeda,
Duniamu dan duniaku terhalang oleh waktu...
.
.
#hanyarindu 🙈
Selasa, 07 Januari 2020
Aku masih teringat waktu itu,
Ketika kamu hadir dalam keseharianku,
Segalanya berawal dalam bayangan dan ilusi,
Bahagia saat itu,
Hadirmu memberikan cahaya,
Membuat bunga bermekaran dalam hati,
Sikap yang kau berikan seolah nyata,
Seketika semua berubah menjadi gelap,
Dunia bahagia itu retak bersamaan dengan kenyataan pahit,
Seketika itu aku mengalihkan duniaku darimu,
Lalu,..
Kamu kembali memberi begitu banyak pelangi,
Kemudian kamu buat seolah wanita hanyalah permainan,
Semua yang terjadi hanyalah skenario dalam drama,
Yang kau atur sesuka hatimu,
Andai angin bisa menyampaikan pesan,
Ku ingin memberimu pesan,
Berhentilah memakai topeng,
Aku lelah dengan begitu banyak drama yang terjadi,
Seolah dunia ini hanya ada skenario kepalsuan,..
*Luka yang menjadi kenangan*
Aku telah bermimpi,
Bahwa kamu telah menghampiriku,
Yang kurasa bukanlah rindu,
Tetapi hanya sekilas mengingat saat itu,
Mengingat saat bersamamu,
Mungkin menyenangkan,
Tetapi lika liku itu menyayat batin,
Hingga saat ini,
Luka itu menjadi kenangan dalam hidupku..
Bahwa kamu telah menghampiriku,
Yang kurasa bukanlah rindu,
Tetapi hanya sekilas mengingat saat itu,
Mengingat saat bersamamu,
Mungkin menyenangkan,
Tetapi lika liku itu menyayat batin,
Hingga saat ini,
Luka itu menjadi kenangan dalam hidupku..
*Kenangan abadi antara aku dan ibuku*
Wanita kecil sudah beranjak dewasa,
Yang memiliki jutaan beban,
Tanggungjawab serta guncangan batin menyayat kalbu,
Detik demi detik telah dilalui,
Luka luka kecil tumbuh dan menggores,
Luka yang tiap detik menganga dan menutup,
Seperti kayu rapuh nan tua,
Dia ibuku,
Tapi mengapa dia seolah menyuruhku pergi,
Kata kata nya tak seindah kenangan masa itu,
Aku hanya gadis yang terpontang panting,
Aku rindu,
Gemuruh dalam hati,
Ingin rasanya kembali dalam kenangan yang terkubur waktu,
Tapi semua sudah berlalu,
Hanya menjadi kenangan abadi antara aku dan ibuku...
Yang memiliki jutaan beban,
Tanggungjawab serta guncangan batin menyayat kalbu,
Detik demi detik telah dilalui,
Luka luka kecil tumbuh dan menggores,
Luka yang tiap detik menganga dan menutup,
Seperti kayu rapuh nan tua,
Dia ibuku,
Tapi mengapa dia seolah menyuruhku pergi,
Kata kata nya tak seindah kenangan masa itu,
Aku hanya gadis yang terpontang panting,
Aku rindu,
Gemuruh dalam hati,
Ingin rasanya kembali dalam kenangan yang terkubur waktu,
Tapi semua sudah berlalu,
Hanya menjadi kenangan abadi antara aku dan ibuku...
Cerpen
Dari dalam sebuah ruangan kosong terdapat dua kursi kosong. Disana yang terlihat hanyalah kegelapan tanpa ada secerca cahaya. Seketika dari kejauhan nampaklah bayangan yang tak pernah diduga. Dia datang dan mengetuk pintu perlahan, meski aku kuat menutup rapat-rapat ternyata dia bisa membuka pintu dengan sangat elegan.
“Silakan masuk” kataku dari dalam ruangan kosong sembari melihat sosok bayangan itu. Aku masih terdiam, tercengang dan tak berdaya karena dia begitu mudah membuka pintu.
“Bolehkah aku menjadikanmu sebagai putri dalam hidupku?” Tanya dia sambil menatap mataku.
“Emmm.. Ii,.yaa!” begitu mudah aku menjawab ajakan dia. Lalu aku dan diapun menjalani hari-hari bersama sambil merencanakan sesuatu yang luar biasa. Ragu dalam lintasan namun aku tetap melangkah maju dengan keyakinan. Suatu ketika pergantian tahun akan terjadi, lalu dia ijin untuk pergi bersama keluarga besarnya. Setelah malam itu diapun menjadi sosok yang sangat berbeda dari pertama bertemu. Hatiku terasa terombang-ambing dengan sikap dia yang berubah, akupun memberanikan diri untuk bertanya padanya. "apa yang sebenarnya terjadi?" kataku sembari berdo'a dalam hati. Diapun menjawab "aku tidak pantas untukmu".
Seketika hatiku seperti dicabik-cabik, dibakar dan dibuang kedasar jurang. Akupun bertanya lagi "apa alasan kamu berkata seperti itu?"
Dia hanya berkata "maafkan aku, aku butuh waktu". Lalu dia menghilang.
Satu bulan kemudian...
Aku kembali bertanya padanya, "bagaimana, masih butuh waktu lagi?" lalu dia menjawab "maaf, aku tidak bisa jalani sama kamu lagi".
Akupun terdiam sambil menunduk. Kemudian aku bertanya sekali lagi "alasannya apa tiba-tiba kamu berubah fikiran? Jelaskan!
Diapun tertegun dan enggan menjelaskan apapun. Seketika itupun dia menghilang bagaikan daun yang terbakar oleh api. Hanya tinggallah abu yang menjadi kenangan. Dia hanya datang untuk memberikan pelajaran, bukan untuk menetap seperti kata mutiara elegan yang hanya terucap dalam kata bukan dalam hati...
Cerpen
By :handhikuchan
“Silakan masuk” kataku dari dalam ruangan kosong sembari melihat sosok bayangan itu. Aku masih terdiam, tercengang dan tak berdaya karena dia begitu mudah membuka pintu.
“Bolehkah aku menjadikanmu sebagai putri dalam hidupku?” Tanya dia sambil menatap mataku.
“Emmm.. Ii,.yaa!” begitu mudah aku menjawab ajakan dia. Lalu aku dan diapun menjalani hari-hari bersama sambil merencanakan sesuatu yang luar biasa. Ragu dalam lintasan namun aku tetap melangkah maju dengan keyakinan. Suatu ketika pergantian tahun akan terjadi, lalu dia ijin untuk pergi bersama keluarga besarnya. Setelah malam itu diapun menjadi sosok yang sangat berbeda dari pertama bertemu. Hatiku terasa terombang-ambing dengan sikap dia yang berubah, akupun memberanikan diri untuk bertanya padanya. "apa yang sebenarnya terjadi?" kataku sembari berdo'a dalam hati. Diapun menjawab "aku tidak pantas untukmu".
Seketika hatiku seperti dicabik-cabik, dibakar dan dibuang kedasar jurang. Akupun bertanya lagi "apa alasan kamu berkata seperti itu?"
Dia hanya berkata "maafkan aku, aku butuh waktu". Lalu dia menghilang.
Satu bulan kemudian...
Aku kembali bertanya padanya, "bagaimana, masih butuh waktu lagi?" lalu dia menjawab "maaf, aku tidak bisa jalani sama kamu lagi".
Akupun terdiam sambil menunduk. Kemudian aku bertanya sekali lagi "alasannya apa tiba-tiba kamu berubah fikiran? Jelaskan!
Diapun tertegun dan enggan menjelaskan apapun. Seketika itupun dia menghilang bagaikan daun yang terbakar oleh api. Hanya tinggallah abu yang menjadi kenangan. Dia hanya datang untuk memberikan pelajaran, bukan untuk menetap seperti kata mutiara elegan yang hanya terucap dalam kata bukan dalam hati...
Cerpen
By :handhikuchan
Langganan:
Postingan (Atom)











